Demo Anti-Kenaikan Harga Pangan di Tunisia diwarnai Aksi Penjarahan Juga

Pengunjuk rasa terlihat mulai memadati jalan protocol yang ada di Ibu Kota Tunisia di mana mereka memprotes adanya kenaikan harga bahan-bahan pokok pada hari Selasa (9/1) kemarin. Lebih dari 200 orang yang ada di Tunisia menjadi pengunjuk rasa. Mereka memprotes kenaikan harga bahan-bahan pokok. Dan mereka sudah ditangkap oleh aparat kepolisian akibat dituduh melakukan aksi kekerasan.

Adanya Arab Spring

Demonstrasi yang digelar di beberapa kota itu sudah memasuki hari yang ketiga dan mulai diwarnai dengan kekerasan yang mana diduga melibatan juga aparat kepolisian dan juga pengunjukrasa. Kementerian Luar Negeri Tunisia mengatakan bahwa puluhan aparat polisi terluka pada bentrokan dengan para pengunjukrasa.

Dan dibandingkan dengan negara-negara Arab yang lainnya yang mana dilanda dengan Arab Spring, Tunisia ini mendapatkan pujian dikarenakan transisi demokratisnya dikatakan relative mulus semenjak diguncang oleh gerakan protes anti pemerintah pada tahun 2011 yang mana kemudian memicu Arab Spring.

Pada pertengah Desember tahun 2010, Arab Spring dimulai di Tunisia dan akhirnya menyebar ke beberapa negara lainnya yang ada di kawasan itu pada awal tahun 2011. Dan peristiwa Togel online itu ditandai dengan adanya aksi massa baik yang berjalan dengan mulus sampai dengan yang menggunakan kekerasan.

Akan tetapi tujuh tahun kemudian mulailah muncul kemarahan masyarakat Tunisia. Mereka marah dan mengeluh mengapa ada kenaikan harga barang-barang pokok. Seorang pengunjuk rasa mengatakan, “ini adalah protes pada harga barang-barang termasuk juga harga obat. Semuanya naik akan tetapi gaji tak naik. Ini adalah saat yang sangat tepat untuk memprotes semuanya itu, harga-harga itu.”

Kekerasan Terjadi Setelah Hari Pertama

Pada awalnya, unjuk rasa yang ada di Tunisia ini berlangsung damai. Akan tetapi memasuki hari kedua, lalu dimulai dengan aksi kekerasan yang mana menjurus [ada kerusuhan yang ada di beberapa kota.

Khalifa Chibani, jubir Kementerian Dalam Negeri, dilansir dari BBC Indonesia, mengatakan pada radio setempat bahwasanya paling tidak ada 49 anggota polisi yang tengah menjalankan tugasnya dan terluka akhirnya akibat bentrok dengan para pengunjukrasa.

Sampai dengan hari Rabu (10/1), aparat kepolisian sudah menangkap sebanyak 206 orang yang mana diklaim sebagai ‘pembuat onarnya’ ketika unjuk rasa sedang berlangsung. Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa demonstrasi yang ada di kota Tunis, Ibu Kota Tunisia, berubah. Malahan demonstrasi ini menjadi ajang penjarahan barang-barang pokok yang ada di Supermarket Carrefour yang ada di pinggiran kota tersebut.

Unjuk rasa sempat mereda pada hari Rabu siang. Namun laporan saksi mata mengatakan bahwa demonstrasi kembali lagi digelar pada mala hari. Di Kota Tebourba yang terletak di sebelah barat kota Tunis, ada seorang pria yang berusia 40 tahun-an meninggal dalam insiden kerusuhan yang terjadi pada hari Senin (8/1) malam.

Youssed Chahed, Perdana Menteri Tunisia, mengutuk tindakan ‘perusuh’ yang ada dalam unjuk rasa yang mana disebutnya didalangi oleh partai-partai kiri guna menggerogoti dan juga melemahkan pemerintah. Bentrokan yang terjadi antara aparat kepolisian dan juga pengunjukrasa pasanya pecah pada hari Rabu malam di kota bernama Siliana, wilayah yang ada di utara negara Tunisia.

Seperti yang dilansir dari BBC Indonesia, pengunjukrasa-pengunjukrasa yang ada di sana melemparkan batu dan lebih parahnya lagi bom Molotov ke arah aparat kepolisian yang lalu dibalas dengan tembakan gas air mata. Di kota Kasserine juga, satu-satunya wilayah termiskin itu demo diwarnai dengan  pembakaran ban dan pemblokiran jalan dan aksi lempar batu ke polisi.